Venue

Wednesday, March 19, 2014

Mengikhlaskan, Si Hebat Itu

Menata hati tidak pernah semudah menata buku. Hati yang berantakan menyebabkan pikiran yang runyam. Hati yang renta, membawa gundah dan membangun kesia-siaan waktu. Namun, apa daya hati? Ia tetap saja sulit ditata.

Ikhlas itu sungguh sulit. Butuh lebih dari 24 jam untuk hanya mengikhlaskan satu kalimat menyayat hati. Mungkin aku yang tak lapang hatinya, hingga sungguh sulit bagiku mengikhlaskan satu kalimat menyakitkan. Seseorang yang bicaranya sungguh hebat, walau cenderung menceritakan kehebatan dirinya saja, ternyata hobi melihat orang lain lebih rendah darinya. Aku akui dia memang hebat, mungkin, menurut cerita darinya sih begitu. Namun, tetap saja caranya menilai kehidupanku teramat melukai. Dia, yang sama sekali tidak kenal denganku, bahkan itu pertemuan kedua dia denganku, sangat tidak berkelas menilai kehidupanku. 

Dimatanya, aku hanya seorang mahasiswa semester 4 yang tidak mengerti bagaimana cara membuat presentasi. Sebegitunyakah? Aku? Tugasnya yang tidak jelas dan tidak pernah aku protes itu sepertinya mengiris batas toleransiku. Hanya semata - mata dia, si hebat itu, seorang dosen, lantas dia boleh berbuat semaunya, pergi dan datang sesukanya, begitukah?

Aku lebih dari 24 jam merenungi keperihan hati ini. Namun, sungguh ikhlas itu sulit. Beruntung bagi hati yang bisa dengan mudah memaafkan lalu ikhlas dengan apa yang terjadi. Semoga, jika aku ikhlas, ini semua menjadi pahala bagiku, dan biarkan perilaku, si hebat itu, menjadi urusan dia dengan Tuhannya. Amin.

Thursday, February 27, 2014

Bisakah...

Entah kapan aku mulai benar - benar menyukai dia. Berawal dari permainan konyol yang ternyata semakin lama semakin menyeret keikutsertaan hati. Menjalani ini seperti mengiris hatiku perlahan.

Menyukai seseorang, namun aku bahkan tidak tahu apakah dia juga begitu, atau dia - masih menganggap kita dalam permaianan.

Menyukai seseorang. Seketika, melihat dia bersama yang lain. Lalu, tiba - tiba menangis seperti orang bodoh.

Menyukai seseorang, hingga mendengarkan lagu sedih yang sama sampai tertidur.

Aku melakukan hal sia - sia dan bodoh karena perasaan ini. Aku membiarkan diriku tidur tidak pada waktunya. Aku jadi terlalu banyak tidur. Aku jadi terlalu sering meremas hati.

Aku terlalu berharap untuk selalu bersama dengan dia. Tertawa lepas karena dia yang selalu bisa tertawa oleh candaku. 
Tubuhku enggan lelah saat aku bersama dengannya. Kami sama - sama asik berdua walau berada di tengah keramaian. Bukankah itu seru?

Ada apa denganku saat ini? Aku berantakan! Hatiku berantakan, pikiranku pun begitu. Dengan tatapan kosong, aku berjalan.

Apakah hanya karena dia aku jadi begini? 

Ada banyak pertanyaan dalam rasa ini,
Bisakah aku dan dia tidak hanya seru saat bertemu?
Bisakah aku dan dia saling membicarakan kebenaran hati?
Bisakah aku berhenti menduga-duga?
Bisakah aku tertawa lepas bersama yang lain?
Bisakah dia tidak berhenti menatapku seperti itu?
Bisakah aku terus berjalan berdua dengan dia?
Bisakah dia tidak berhenti bercerita tentang dirinya padaku?
Bisakah dia terus berbuat baik padaku?
Bisakah aku menjauh dari dia?
Bisakah rasa ini berhenti menyesakan dada?
Bisakah...

Sunday, February 9, 2014

The Death Soul

Terlahir dari seorang dewi bukan berarti aku mendapati sosok ibu yang penuh rasa "keibuan". Mungkin membesarkan anak menjadi hal tersulit untuk dilakukan setelah ikhlas dan sabar. Bahkan, seorang dewi sekalipun bisa saja keliru dalam membesarkan anaknya.

Aku ini mungkin anak durhaka. Sejak kecil - walau banyak yang berkata kalau aku ini sangat dekat dengan ibuku- aku merasa ada yang tidak pas dari wanita ini. Aku mungkin hamba yang paling nista yang pernah ada. Tuhan mungkin sangat membenciku atas perasaan ini. Namun, sungguh aku merasa diberdayakan. Aku merasa di besarkan untuk menjadi seorang robot yang punya perasaan. Oh tidak! Gara - gara itu aku justru merasa tidak terlalu punya perasaan.

Sejak kecil, wanita itu tak pernah puas dengan apapun yang aku lakukan. Aku mungkin bukan anak yang pintar, namun aku lebih sering menjadi juara kelas sejak SD hingga SMA. Namun, saat aku mendapat nilai 8 kala teman - temanku dapat 10, dia tak puas. Aku juga sering mengikuti perlombaan. Saat aku meraih juara 3 dan bukan 1, dia pun tak puas. Aku bahkan tidak hanya berprestasi di bidang akademik, aku bahkan berprestasi dalam organisasi. Tidakkah dia melihat usahaku membelah diri menjadi banyak bagian. 

Aku berulang kali menghindari diri dan hati dari rasa lelah. Dia yang kini hanya satu - satunya bagiku, harusnya menjadi satu - satunya pula orang yang aku jadikan sandaran saat letih. Atau mungkin aku terlalu berharap lebih, padahal Tuhan sudah memberikan apa yang aku butuhkan.

Aku pernah berada di satu titik kala aku merasa menjadi ikan yang terlalu lama terdampar di daratan. Aku berteriak namun tak ada satupun yang memberiku air, bahkan dia. Di titik itu, aku menyadari bahwa hanya Tuhan yang akan selalu ada untukku. Aku hanya bersama Tuhan. 

Sejak saat itu aku merasa sudah mati.

Kini, aku merasa diriku sudah berubah namun belum terlahir kembali. Aku mungkin masih di dalam proses menuju hidup kembali, atau mungkin, aku takkan pernah hidup lagi.

Sejujurnya di proses lahir kembali ini. Aku, yang mulai menata hati,mulai menemukan sentikkan semangat baru. Namun, tanpa aku sangka, dia mencoba membunuhku lagi. Dia seolah membuang jauh semangatku untuk hidup kembali. Aku bahkan baru saja bisa tertawa lepas lagi. 

Sepertinya dia memang tak pernah berharap aku ada. Dia tak mencintai ayahku, padahal dia mengaku ayahku sudah menyelamatkan hidupnya. Dia acapkali mengungkapkan betapa hidupnya terbebani dengan adanya anak, itu berarti, aku menjadi bebannya. 

Sejujurnya aku mengasihaninya, dia seperti seseorang yang tak pernah dicintai. Hidupnya keras. Namun, kegagalan terbesarnya adalah membiarkan dirinya hilang dalam masalalu dan tidak bangkit kembali. Tapi, apakah itu harus menjadi alasan dia membunuh hidupku? Dia memang kontributor terbesar yang menjadi alasan aku masih hidup saat ini, namun dia hanya menghidupkan ragaku, jiwaku mati. Sungguh, aku merasa terbunuh.

Aku hanya berharap, Tuhan menyelamatkan aku lagi. Tuhan menyelamatkan masa depanku, hari tuaku, dan keturunanku dari rasa terbunuh jiwanya. Aku berharap Tuhan akan selalu mengiringi langkahku. Semoga ketabahan ini terhitung ibadah bagiNya. Amiin.

Friday, February 7, 2014

7 Minutes in Pain

Tuhan pasti punya alasan bagi setiap hal. Namun aku seolah tak pernah bersyukur atas segala perlindungan Tuhan terhadap hati ini. Sejak kecil, Tuhan lindungi hati ini dari luka yang tak perlu, dari cinta yang semu, dan dari hilangnya fokus terhadap tujuan hidupku. 

Hanya saja, terkadang aku yang setengah manusia ini, mendapati sisi lemah kemanusiaanku. Sejauh aku mengingat masa lalu, aku tak pernah mendapatkan seseorang yang aku inginkan, yang bisa membuatku tertawa hingga lupa hari esok. Aku lebih sering bertemu seseorang yang baik hati, tulus, bahkan beberapa rela melakukan banyak hal untukku. Seharusnya aku bahagia. Namun, aku, walau setengah manusia, tetap tidak bisa sepenuhnya memahami hati. 

Aku ingin tertawa bersama orang lain, menghabiskan waktu bersama orang lain, kala aku diberkahi seseorang berhati malaikat. Mungkin Tuhan akan membenci aku jika aku terus seperti ini. Aku sadar, ini semua adalah berkah. Namun, jika boleh aku meminta, izinkan aku sekali saja bersama seseorang yang jika aku bersamanya, aku bisa tertawa puas. 

Aku, sesungguhnya tengah berada di situasi yang aku pun tak mengerti harus bagaimana dengan hati. Aku, seolah terikat oleh sosok yang dewasa, bijak, penyayang, namun selalu kesulitan menemukan cara untuk menghidupkan suasana. Mungkin itu yang sesungguhnya aku butuhkan. Namun, hati ini ingin sekali menghabiskan waktu bersama yang lain. Seseorang yang bisa membuat aku sungguh tertawa dan selalu tertawa di setiap candaku. 

Tuhan, ampuni hati yang acapkali tak bersyukur ini. 

Aku takut terluka. Aku takut semakin aku lepas, semakin aku tak menemukan jalan untuk kembali. Aku hanya ingin sesekali berkeliaran seperti manusia lain sebelum semuanya menjadi tidak mungkin. Aku takut, kali ini, akan sama seperti yang lalu. Aku takut dia akan lewat begitu saja bersama waktu. Aku takut sengal di hati ini hanya dirasakan olehku.

Aku sungguh hilang arah. Aku sungguh tak mengerti akan menuju kemana. Aku seolah membiarkan waktu membawa pergi semuanya.

Tuhan, bimbing aku, bawa aku pergi ke tempat yang tak pernah aku duga. Berikan aku kejutan indahmu lagi.