Menata hati tidak pernah semudah menata buku. Hati yang berantakan menyebabkan pikiran yang runyam. Hati yang renta, membawa gundah dan membangun kesia-siaan waktu. Namun, apa daya hati? Ia tetap saja sulit ditata.
Ikhlas itu sungguh sulit. Butuh lebih dari 24 jam untuk hanya mengikhlaskan satu kalimat menyayat hati. Mungkin aku yang tak lapang hatinya, hingga sungguh sulit bagiku mengikhlaskan satu kalimat menyakitkan. Seseorang yang bicaranya sungguh hebat, walau cenderung menceritakan kehebatan dirinya saja, ternyata hobi melihat orang lain lebih rendah darinya. Aku akui dia memang hebat, mungkin, menurut cerita darinya sih begitu. Namun, tetap saja caranya menilai kehidupanku teramat melukai. Dia, yang sama sekali tidak kenal denganku, bahkan itu pertemuan kedua dia denganku, sangat tidak berkelas menilai kehidupanku.
Dimatanya, aku hanya seorang mahasiswa semester 4 yang tidak mengerti bagaimana cara membuat presentasi. Sebegitunyakah? Aku? Tugasnya yang tidak jelas dan tidak pernah aku protes itu sepertinya mengiris batas toleransiku. Hanya semata - mata dia, si hebat itu, seorang dosen, lantas dia boleh berbuat semaunya, pergi dan datang sesukanya, begitukah?
Aku lebih dari 24 jam merenungi keperihan hati ini. Namun, sungguh ikhlas itu sulit. Beruntung bagi hati yang bisa dengan mudah memaafkan lalu ikhlas dengan apa yang terjadi. Semoga, jika aku ikhlas, ini semua menjadi pahala bagiku, dan biarkan perilaku, si hebat itu, menjadi urusan dia dengan Tuhannya. Amin.
No comments:
Post a Comment