Terlahir dari seorang dewi bukan berarti aku mendapati sosok ibu yang penuh rasa "keibuan". Mungkin membesarkan anak menjadi hal tersulit untuk dilakukan setelah ikhlas dan sabar. Bahkan, seorang dewi sekalipun bisa saja keliru dalam membesarkan anaknya.
Aku ini mungkin anak durhaka. Sejak kecil - walau banyak yang berkata kalau aku ini sangat dekat dengan ibuku- aku merasa ada yang tidak pas dari wanita ini. Aku mungkin hamba yang paling nista yang pernah ada. Tuhan mungkin sangat membenciku atas perasaan ini. Namun, sungguh aku merasa diberdayakan. Aku merasa di besarkan untuk menjadi seorang robot yang punya perasaan. Oh tidak! Gara - gara itu aku justru merasa tidak terlalu punya perasaan.
Sejak kecil, wanita itu tak pernah puas dengan apapun yang aku lakukan. Aku mungkin bukan anak yang pintar, namun aku lebih sering menjadi juara kelas sejak SD hingga SMA. Namun, saat aku mendapat nilai 8 kala teman - temanku dapat 10, dia tak puas. Aku juga sering mengikuti perlombaan. Saat aku meraih juara 3 dan bukan 1, dia pun tak puas. Aku bahkan tidak hanya berprestasi di bidang akademik, aku bahkan berprestasi dalam organisasi. Tidakkah dia melihat usahaku membelah diri menjadi banyak bagian.
Aku berulang kali menghindari diri dan hati dari rasa lelah. Dia yang kini hanya satu - satunya bagiku, harusnya menjadi satu - satunya pula orang yang aku jadikan sandaran saat letih. Atau mungkin aku terlalu berharap lebih, padahal Tuhan sudah memberikan apa yang aku butuhkan.
Aku pernah berada di satu titik kala aku merasa menjadi ikan yang terlalu lama terdampar di daratan. Aku berteriak namun tak ada satupun yang memberiku air, bahkan dia. Di titik itu, aku menyadari bahwa hanya Tuhan yang akan selalu ada untukku. Aku hanya bersama Tuhan.
Sejak saat itu aku merasa sudah mati.
Kini, aku merasa diriku sudah berubah namun belum terlahir kembali. Aku mungkin masih di dalam proses menuju hidup kembali, atau mungkin, aku takkan pernah hidup lagi.
Sejujurnya di proses lahir kembali ini. Aku, yang mulai menata hati,mulai menemukan sentikkan semangat baru. Namun, tanpa aku sangka, dia mencoba membunuhku lagi. Dia seolah membuang jauh semangatku untuk hidup kembali. Aku bahkan baru saja bisa tertawa lepas lagi.
Sepertinya dia memang tak pernah berharap aku ada. Dia tak mencintai ayahku, padahal dia mengaku ayahku sudah menyelamatkan hidupnya. Dia acapkali mengungkapkan betapa hidupnya terbebani dengan adanya anak, itu berarti, aku menjadi bebannya.
Sejujurnya aku mengasihaninya, dia seperti seseorang yang tak pernah dicintai. Hidupnya keras. Namun, kegagalan terbesarnya adalah membiarkan dirinya hilang dalam masalalu dan tidak bangkit kembali. Tapi, apakah itu harus menjadi alasan dia membunuh hidupku? Dia memang kontributor terbesar yang menjadi alasan aku masih hidup saat ini, namun dia hanya menghidupkan ragaku, jiwaku mati. Sungguh, aku merasa terbunuh.
Aku hanya berharap, Tuhan menyelamatkan aku lagi. Tuhan menyelamatkan masa depanku, hari tuaku, dan keturunanku dari rasa terbunuh jiwanya. Aku berharap Tuhan akan selalu mengiringi langkahku. Semoga ketabahan ini terhitung ibadah bagiNya. Amiin.
No comments:
Post a Comment